Budaya dan Tradisi ?

on

doa pengantinSudah 1 bulan lebih rasanya saya tidak menulis di blog ini, rindu rasanya ingin menulis…beberapa kali membuka menu pos……tapi belum ada ide untuk menulis…selain itu karena kesibukan pekerjaan yang cukup padat menambah kesulitan untuk mencurahkan ide tulisan.

Tapi beberapa hari terkahir ini ada sebuah rasa yang ingin disampaikan dan dicurahkan dalam tulisan menyangkut judul diatas. Hal ini berkaitan yang kegiatan yang saya dan keluarga alami sendiri. Begini ceritanya….

Belakangan ini saya dan keluarga sibuk mempersiapkan pernikahan adik kami yang bungsu, seorang laki-laki dengan seorang gadis. Seperti biasa hal penting yang dibahas adalah hari dan tanggal pernikahan. Kami sekeluarga yang berasal dari daerah Muara Enim, Sumatera Selatan, tidak pernah mempermasalahkan hari dan tanggal pernikahan. Adik kami dan calon istrinya sudah sepakat untuk melangsungkan akad pada hari Minggu, 7 Juni 2015. Dan kami sekeluarga menyepakati hari dan tanggal tersebut.

Seperti biasa di adat dan tradisi menjelang pernikahan, kedua keluarga besar mengadakan pertemuan awal, istilah yang sering diucapkan dengan kata “berasan” atau berembuk atau juga melamar. Pihak laki-laki mendatangi keluarga pihak perempuan untuk secara resmi menyampaikan permohonan bahwa ada seorang laki-laki yang ingin menikahi seorang perempuan.

Sampai dengan hal ini semua berjalan lancar, kami sekeluarga diterima dengan baik. Lamaran kami diterima dan adik kami dapat menikahi “kekasihnya” tersebut. Sehingga ada sebuah permintaan dari pihak perempuan yang menyampaikan permohonan kepada kami, yaitu mengenai hari akad nikah. Pihak perempuan mengajukan hari akad nikah dipercepat menjadi hari Senin, tanggal 4 Mei 2015 dengan alasan bahwa hari dan tanggal tersebut adalah hari “baik”.

Mendengar permintaan itu saya dan keluarga baru teringat bahwa calon istri adik saya ini berasal dari keturunan Jawa. Yang para orang tua-tua mereka masih memegang teguh adat dan tradisi. Sehingga sebuah pernikahanpun tidak lepas dari hitungan adat budaya dan tradisi.

Saya dan keluarga sebenarnya tidak pernah memakai kata hari “baik” dan “tidak baik” untuk melakukan sebuah kegiatan. Karena yakin bahwa ALLAH SWT menciptakan semua hari, tanggal dan tahun semuanya baik. Tapi kami menganggapi permintaan ini dengan baik. Toh… kalo pernikahan lebih cepat lebih baik. Bukankan pernikahan itu ibadah ?…..

Akhirnya setelah “berasan” disepakati bahwa akad nikah dilaksanakan pada hari senin, 4 Mei 2015 lebih cepat 1 bulan dari rencana semula. Tentu saja ini membuat kami membuat rencana ulang, karena saya sendiri harus mengajukan cuti, lebih-lebih lagi kedua calon pengantin….sama-sama harus mengajukan cuti ditempat kerja masing-masing, karena pernikahan dilaksanakan pada hari Senin dimana semua orang sibuk mengawali hari kerja. Dan yang pasti akad nikah tidak bakal ramai karena alasan tadi……….para sahabat, rekan, saudara, tetangga harus masuk kerja dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Menyikapi hal ini kami sekeluarga tetap berpikir positif terutama kedua orang tua saya. Mereka malah senang, karena mereka mendapatkan 4 orang menantu yang berasal dari daerah, adat dan budaya yang berbeda. Dan tentu saja akan menambah warna kehidupan di hari-hari tua mereka.

Bagaimana rekan-rekan….ada yang memiliki pengalaman dan cerita yang sama dengan yang saya alami……silahkan berbagi cerita melalui komentar di bawah ya…..!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s