Mengusung Dangdut ke Panggung Internasional yang sesungguhnya


Kalau kita flashback sejenak tentang sejarah dangdut yang berusaha untuk go internasional, jujur tidak banyak yang bisa dicari rekam jejaknya. Kalaupun ada lebih bersifat private dan segmented seperti yang pernah dilakukan oleh umi Elvy Sukaesih di Tokyo di tahun 90-an ataupun ada beberapa artis dangdut yang diundang oleh paguyuban TKW di Hongkong.

Salah satu generasi muda yang pernah mencoba itu mungkin bisa kita sebut nama Padhayangan Project yang mengusung title Dangdut is the music of my country. Itupun market share-nya lebih banyak terserap di Indonesia meskipun syairnya sebagian sudah berbahasa Inggris. Bukti lain lagi adalah negara jiran ASEAN sendiri walaupun sebagian serumpun Melayu banyak yang tidak familiar dengan dangdut.

Sejak digelarnya beberapa serial D’Academy Asia, juaranya selalu Indonesia. Bahkan Malaysia atau Singapura kerepotan untuk mengirimkan wakilnya, sehingga kadang mereka mencatut dan sedikit memaksa artis genre lainnya untuk berpartisipasi di ajang tersebut. Artinya apa? Membawa dangdut ke ajang internasional tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dengan menciptakan lagu dangdut dan membuat syairnya dalam bahasa Inggris dan selesai. Oleh sebab itu tulisan ini sengaja dibuat untuk mengajak pembaca untuk sama-sama urun rembug menuju Dangdut Go Internasional yang sesungguhnya.

Kalau kita mengkaji bagaimana musik etnik di berbagai belahan dunia bisa menembus pasar global, banyak aspek yang harus kita adopt. Ambil contoh musik latin oleh Julio Iglesias, Jennifer Lopez atau yang boombastic Ricky Martin, atau ambil contoh musik India yang bisa penetrasi ke Eropa. Dari keberhasilan kedua musik etnis tersebut ada hal-hal yang harus menjadi perhatian dan semacam resep utamanya. Pertama, lagu tersebut harus dikawinkan dengan setting internasional artinya bukan hanya bahasa tetapi instrumen musik internasional seperti saxophone, biola, atau piano serta alat lain yang berlaku lintas negara dan genre harus diaplikasikan. Kedua, yang membawakan lagu tersebut haruslah artis yang secara paket fisik menarik dan lengkap, kualitas suara bisa diterima oleh standar universal dan serba bisa menari, akting, menyanyi sekaligus ber-gimmick. Menyikapi trend tersebut kita harus berhati-hati dalam seleksi penyanyi dalam kaitannya yang akan menjadi duta dangdut internasional. Mengingat saat ini LIDA di Indosiar sedang memasuki tahap 3 besar yang diisi oleh finalis pilihan pemirsa dan juri, tentunya ketiga mereka ini bukanlah lagi orang sembarangan.

LIDA

Dengan segala proses yang lalui selama ini, mereka memang layak berada di posisi tersebut. Namun, alangkah bijaknya sebagai voters yang cerdas kita harus bisa memisahkan keberpihakan apakah karena primodialisme daerah atau memang ingin mengusung dangdut lebih berkelas lagi dan cita rasa universal. Maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menganalisis SWOT dari setiap finalis tersisa.

Selfi dari Soppeng harus diakui memang memiliki warna vokal dangdut yang khas dan genuine, artinya ketika Selfi menyanyi Dangdut terasa sekali cita rasa dangdutnya yang klasik, tetapi di lain sisi Selfi mempunyai keterbatasan untuk lintas genre. Arif dari Padang mempunyai vokal yang bagus dan bisa diarahkan untuk lintas genre namun harus kita akui pula bahwa yang bersangkutan memiliki keterbatasan fisik yang akan menyulitkan beliau untuk mobilisasi dan berinteraksi dengan banyak pihak seperti pemain musik, penari, stage, mc atau host. Artinya lagi Arif akan selalu membutuhkan pihak kedua yang membantunya selain manajer. Walaupun begitu Arif siap jadi Stephie Wondernya Indonesia.

Sementara Rara dari Prabumulih memiliki whole package yang dibutuhkan oleh seorang penyanyi berkelas, suara yang mahal, looks yang menarik, musikalitas tinggi, menguasai alat musik, dan bisa lintas genre dengan proses belajar yang cepat mixing dengan jazz, rock, pop, india, jawa, melayu bahkan arabian. Apalagi Rara dari kecil sudah biasa mengikuti lomba sehingga nervous dan demam panggung bukan sesuatu yang baru baginya. Hanya saja usianya yang masih muda apalagi masih kelas 2 SMA, kematangan emosinya belum teruji menghadapi persaingan yang sangat keras dan full of intrict. Artinya pula Rara harus di-manage oleh orang yang menguasai psikologis remaja dan harus berfungsi menjadi pemandu bakat yang profesional. Jadi kalau kita kembalikan siapa yang pantas menjadi juara LIDA adalah Rara, tentu saja kalau itu berbanding sejajar dengan perolehan voting yang tinggi. Pekerjaan Rumah bersama adalah bagaimana kita sebagai pemirsa yang cerdas benar benar memilih sesuai hati nurani karena dia layak jadi juara bukan karena faktor kesamaan asal usul semata. Jangan sampai LIDA berakhir seperti pemilu, pileg atau pilkada yang sering berakhir drama tragis karena terpilihnya mereka sebagai akibat faktor sentimen atau emotional semata. Sudah banyak kasus di ajang pencarian bakat di dunia yang ujungnya membawa kontradiksi di mana sang juara menjadi tidak terkenal dikalahkan oleh si runner up atau finalis lain yang tersisih hanya karena faktor bad luck semata.

LIDA RARA

Selain Dewan Dangdut banyak yang apresiasi terhadap pencapaian Rara, apresiasi artis tiga zaman seperti Titiek Puspa tentunya sangat beralasan. Tidak mudah bagi orang eksternal sekelas eyang mau apresiasi orang lain jika dia tidak menilai secara seksama dan mengandalkan analisa serta intuisinya sebagai artis senior yang paham di bidangnya bukan karena senior usia saja.
Wallahu’alam bissawab.

Penulis :

A. Muftizar Zawawi, S.IP, M.Ed (LM)., Ph.D.
(Alumni ’95 Smansa Pbm)

dan

Wiryadi, S.Pd., M.Si.
(Ketua Angk ’95 – Waka IKBA Smansa Pbm & Ketua Angk ’92 Alumni SMPN 2 Pbm)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.